Created (c) by Muhammad Hanafi (DeeJayHan)
Tampilkan postingan dengan label Misteri Injil Kuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misteri Injil Kuno. Tampilkan semua postingan

Riwayat Nabi Isa a.s.


“The Greatest story ever told” is a familiar phrase claimed in the Christian world to describe of the life of Jesus. With either intentional or unintentional ignorance towards Biblical, historical, and archeological evidence, they have made a theory about his life as one full of supernatural events and ended in Jesus’ bodily ascension to heaven after the crucifixion. The theory of Jesus’ being ascended to heaven bodily to return again to the earth in the last age has also influenced the Muslim world so strongly that many of them are still waiting for his return. In this age of commonsense, many also think that this theory is too good to be to true – if not absurd – and cannot satisfy their rational minds. Evidently, careful historical, archeological, Biblical, and Qur’anic studies give different ideas about the theory.
In this writing, the writer tries to highlight some events related to the life of Jesus Chronologically from the events before his birth to the end of his life in Kashmir based on Qur’anic and Biblical evidence to add to the trends of accepting the human story of the great man.
What importance would it bring to reveal the true life story of Jesus? It would be probably help to break the great wall that stands in the way blocking the light of truth to reach humanity. For the Christian world, accepting the story of human Jesus would probably become “the real greatest story ever told”

Kelahiran Maryam

Hanna adalah seorang bangsawan yang tulus, istri seorang alim keluarga Imran, namanya Yoakhim. Sudah lama ia berumah tangga, namun belum juga dikaruniai anak. Pada suatu hari, suaminya diejek oleh tetangganya tentang kemandulannya. Karena ejekan tersebut, suaminya pergi ke Bait Allah untuk sembahyang mohon anak. Demikian pula Hanna, sembahyang di rumah dengan permohonan yang sama. Doa mereka dikabulkan oleh Tuhan secara luar biasa. Hanna mengandung. Mereka sangat bersyukur ke hadirat Ilahi atas karuniaNya. Sebagai tanda syukurnya, Hanna na­dzar bahwa anak yang masih dalam kandungan akan dipersembahkan sebagai pelayan Bait Allah (3:35). Beliau melahirkan seorang anak perempuan yang dinamakan Maryam, dan mohon agar Maryam dan keturunannya dilindungi Ilahi dari godaan setan yang terkutuk (3:36).

Maryam dewasa

Di Bait Allah, Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria sampai usia remaja (3:37). Dengan tekun dan sabar Zakaria mengasuh dan mendidik Maryam. Berkat didikannya, Maryam menjadi seorang wanita yang saleh. Setelah Maryam dewasa, rajin sekali ia beribadah. Hampir seluruh waktunya untuk zikir dan ibadah kepada Tuhan di Bait Allah. Setiap kali Zakaria masuk ke mihrab Maryam, selalu menemukan hidangan disisinya, maka ia bertanya: “Wahai Maryam, makanan ini engkau dapat dari mana?”Maryam hanya menjawab: “Ini dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki tanpa hitungan” (3:37). Kesalehan Maryam itu membangkitkan keinginan Zakaria untuk mempunyai keturunan yang saleh (3:38). Siang malam Zakaria mohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang tulus yang akan meneruskan memimpin manusia ke jalan yang benar (19:2-6). Permohonan Zakaria dikabulkan Ilahi. Dengan perantaraan seorang malaikat, Zakaria memperoleh kabar gembira tentang lahirnya seorang anak laki-laki yang namanya Yahya (3:39; 19:7). Yahya dilahirkan ketika Zakaria telah mencapai usia lanjut (3:40-41; 19:8-11). Yahya seorang anak yang tulus, pandai, berbakti kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya dan sekali-kali tidak sombong (19:12-15). Setelah dewasa Yahya diangkat sebagai Nabi Utusan Allah kepada bangsa Israel

Maryam menerima kasyaf (ru’ya)

Menurut adat kebiasaan kaum Yahudi, wanita yang sedang datang bulan tak boleh tinggal di Bait Allah, karena dianggap najis. Demikian pula Maryam, pada suatu waktu harus meninggalkan Bait Allah. Ia menyingkir ke sebelah Timur serta menyekat dirinya dengan sebuah tabir (19:16-17). Di sanalah Maryam menerima kasyaf (ru’ya) dari Ilahi dengan perantaraan malaikat Jibril yang menampakkan diri seperti seorang laki-laki (19:17). Maryam amat terkejut, dan mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan (19:18). Jibril memperkenalkan diri, bahwa dirinya bukanlah orang jahat, melainkan seorang Utusan Ilahi, yang diutus agar menyampaikan kabar gembira kepada Maryam bahwa:
Maryam adalah wanita yang terpilih dan disucikan (3:42),
Maryam agar memperbanyak bakti kepada Allah SWT (3:43), dan
Maryam akan melahirkan seorang anak laki-laki yang suci (19:19), namanya Al-Masih Isa Ibnu Maryam, yang dihormati di dunia dan akhirat dan tergolong orang-orang tulus dan dekat dengan Allah, ia akan melaksanakan tugas sebagai Nabi sampai usia lanjut (3:45-46).
Maryam amat bergembira dan sedih menerima kasyaf tersebut. Bergembira karena beliau wanita yang beruntung, dimuliakan Ilahi. Beliau sangat sedih, karena mendapat kabar akan melahirkan seorang anak laki-laki, padahal beliau belum berumah tangga. Bagaimana bisa terjadi? (19:20;3:47). Beliau tidak mengerti bahwa dirinya sedang ramai diperebutkan siapa yang beruntung bisa memeliharanya sebagai istri (3:44). Jibril menghibur, supaya Maryam tidak bersedih hati, karena Tuhan akan menyingkirkan rintangan Maryam untuk melahirkan (21:91) sebagaimana Allah menyingkirkan halangan Elisabet untuk mengandung dan melahirkan Yahya dalam usia lanjut (21:90). Bagi Tuhan amat mudah menyingkirkan rintangan itu, karena Tuhan menghendaki Nabi Isa as. adalah Al-Masih yang kedatangannya dinanti-nantikan oleh Bani Israil. Masalah ini telah diputuskan Ilahi (3:47;19:21). Rintangan yang dihadapi oleh Maryam, ialah anggapan Maryam bahwa seorang biarawati harus hidup wadat. Ini tidak benar, karena aturan itu bikin-bikinan para rahib sendiri, bukan syariat Musa (57:27).

Kelahiran Al-Masih

Akhirnya Maryam berumah tangga. Pria yang beruntung mendapat undian untuk memelihara Maryam sebagai istri ialah Yusuf si tukang kayu. Beberapa bulan kemudian, Maryam mengandung (19:22). Pada saat akan melahirkan, Maryam pergi ke tempat yang jauh (19:22) ke kota betlehem di Yudea untuk keperluan sensus penduduk (Lukas 2:2-6). Dalam perjalanan inilah Maryam melahirkan Al-Masih yang kelahirannya telah dinubuatkan oleh para nabi terdahulu. Al-Masih dilahirkan kembar, saudara kembarnya ialah Thomas alias Didymus (Yohanes 11:16). Kelahiran Al-Masih itu pada musim korma (19:23-26), kira-kira bulan September-Oktober tahun 6 sebelum Masehi. Jadi, Al-Masih tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember sebagaimana diyakini oleh umat Kristen sekarang. Jika Al-Masih dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dustalah cerita Lukas, bahwa ketika Al-Masih dilahirkan, pada malam itu banyak para penggembala berada di padang menjaga kawanan ternak mereka (Lukas 2:8). Hal ini tak mungkin terjadi pada tanggal 25 Desember, sebab pada tanggal tersebut di daerah 23 ½ – 66 ½ L.U. mulai musim dingin.

Masa kanak-kanak dan remaja Al-Masih

Pada hari yang ke 8, Al-Masih dibawa ke Bait Allah di Yerusalem untuk disunnat (Lukas 2:21). Kemudian oleh kedua orang tuanya dibawa lari ke Mesir untuk menyelamatkan diri dari ancaman Herodes yang agung. Setelah Herodes meninggal pada awal tahun 4 sebelum masehi, digantikan oleh Arkhilaus, kembalilah Yusuf dan Maryam dengan membawa anaknya, ke tanah Israil dan menetap di Nasaret di daerah Galilea. Sampai beliau berusia 12 tahun (Matius 2:1-23). Nicholas Notovich seorang musafir Rusia yang menulis sejarah berbagai nabi menceritakan: “Tatkala Isa mencapai usia 13 tahun, yaitu saat untuk menikah bagi bangsa Israil…. Beliau diam-diam menghilang dari rumah orang tua beliau. Beliau meninggalkan Yerusalem dan berangkat ke Sind (India) …. Beliau melintasi Sind dan menetap di daerah bertuhan (penyembah Tuhan) didaerah Ainjab yang memiliki lima sungai. Lalu beliau menjelajahi seluruh daerah India; beliau hidup 6 tahun lamanya di tempat-tempat yang berlainan, seperti Benares, Jahganath dan Rayagriba. Orang berduyun-duyun mendengarkan ajaran beliau, tetapi beliau membuat marahnya kaum Brahim (kaum pendeta agama Hindu), tatkala beliau mengajarkan derajat manusia adalah sama; karena adanya sugesti bahwa Brahmin adalah setaraf dengan kaum Sudra, itu dianggap mencemarkan kaidah suci. Kaum Brahmin berusaha untuk menganiaya Yesus dan beliau terpaksa lari ke daerah pegunungan Himalaya, dan terus ke Persia. Beliau tiba kembali di Israil pada usia 29 tahun”.

Kenabian Isa Al-Masih as.

Isa Al-Masih (Yesus Kristus) bertemu kembali dengan keluarga dan kaumnya. Ayahnya telah lama wafat, ketika beliau masih dalam perantauan. Kini, beliau membantu ibunya mengasuh adik-adiknya. Pada usia 30 tahun, beliau diangkat sebagai Nabi Utusan Allah untuk bangsa Israil (3:49; 19:30). Beliau diutus membetulkan Torat dan melunakkan syariat Musa (3:50). Beliau mengajarkan bahwa Allah itu Maha Esa dan mengajak kaumnya agar mengabdi kepadaNya (3:51; 5:117; 19:36; 43:64), dengan membawa banyak tanda bukti, diantaranya:
Membuat burung dari tanah (3:48; 5:110),
Menyembuhkan orang sakit buta dan lepra (3:48; 5:110),
Menghidupkan orang mati (3:48; 5:110), dan sebagainya.
Nabi Isa Al-Masih adalah contoh yang sempurna dari sifat jamali, yaitu sifat keindahan dan keelokan budi pekerti. Beliau seorang yang selalu mendirikan salat dan membayar zakat (19:34) serta mengerjakan puasa (Matius 4:2). Beliau tak berlaku kasar terhadap ibunya (19:32) sebagaimana diceritakan oleh Injil Matius (12:48). Doktrin pokok ajaran beliau adalah membalas keburukan dengan kebaikan (Matius 5:39-40). Beliau adalah seorang hamba Allah (19:30; 43:50) yang diangkat sebagai Nabi (19:30), diutus kepada bangsa Israil (3:49). Beliau membutuhkan makan, minum dan akhirnya wafat (5:75) sebagaimana para nabi sebelumnya (5:75). Jadi, keliru sekali anggapan Gereja bahwa beliau adalah Tuhan yang harus disembah, hidup langgeng di langit tanpa makan dan minum. Beliau telah menyangkal pengakuan sebagai Anak Allah atau Tuhan (5:116). Ungkapan Anak Allah hanyalah dalam arti ibarat, bukan dalam arti yang sebenar-benarnya, yang dimaksud ialah orang baik, sedangkan orang jahat biasa disebut anak setan.

Penyaliban yang gagal

Selama lebih kurang tiga tahun, beliau berdakwah di Galilea, Yudea, Samaria dan di sebelah Timur sungai Yordan. Murid-murid beliau disebut kaum Hawariyin (3:52) yang sering mendapat wahyu Ilahi (5:111) dan menolong Allah (3:52). Allah swt. Berkenan menurunkan “makanan” dari langit kepada mereka (5:112-115) dan menjanjikan kemenangan kepada mereka (3:55; 61:14).
Kaum Bani Israil umumnya tidak menyetujui ajaran beliau dan selalu menolaknya. Mereka tidak Berterima kasih atas petunjuknya, malah mendustakannya dan menghina beliau sebagai anak haram dan ibunya telah berbuat serong (4:156), bahkan mereka merencanakan pembunuhan secara keji terhadap beliau (3:54), tetapi Tuhan berjanji akan menyelamatkannya (3:55). Dalam bulan April ± tahun 30 Masehi, kaum Yahudi melaksanakan niat jahatnya, dengan bantuan seorang muridnya yang khianat, Yudas Ekskariot. Mereka dapat menangkap Al-Masih yang sedang bersembunyi di taman Getsemani pada hari Kamis malam.
Keesokan harinya, Jumat tanggal 7 April 30 M beliau dihadapkan kepada Pontius Pilatus untuk diadili. Pontius Pilatus berusaha membebaskan beliau, karena tak ada bukti bahwa beliau berbuat kesalahan; akan tetapi tuntutan kaum Yahudi amat keras dan dikhawatirkan timbul pemberontakan, maka Pontius Pilatus meluluskan tuntutan mereka. Dalam perjalanan menuju tempat penyaliban, beliau dicaci maki dan disiksa. Akhirnya setelah sampai di bukit Golgota, beliau dinaikkan ke atas salib. Pada waktu itu disalibkan pula dua orang penjahat, yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri Yesus Kristus. Peristiwa ini membuat kaum Yahudi puas dan lega, mereka merasa telah berhasil membunuh Al-Masih, padahal sebenarnya Al-Masih belum wafat ketika diturunkan dari tiang salib oleh murid-muridnya hanya seperti telah wafat saja. Jadi upaya mereka membunuh beliau sejatinya gagal total (4:157-158).

Al-Masih tak mati disalib

Asas pokok agama Yahudi dan Kristen ialah percaya akan kematian Al-Masih disalib secara dogmatis (4:159). Dogma tersebut diungkapkan Ilahi dalam Quran Suci, bahwa “tak seorangpun dari kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen), melainkan akan mengimankan (kematian Isa Al-Masih disalib) itu sebelum matinya” (4:159) atau selama hidupnya; dan juga dibantah dengan keras oleh Ilahi dalam Quran Suci yang menyatakan bahwa Al-Masih sekali-kali tak mati disalib, dan dijelaskan keadaan yang sebenarnya hanya seperti orang mati atau pingsan saja ketika diturunkan dari tiang salib (4:157-158). Kematian di atas tiang salib adalah amat terkutuk, yang hanya dialami oleh orang-orang terkutuk saja (Ulangan 21:23), tak mungkin dialami oleh orang yang mulia seperti Nabi Isa Al-Masih as. Karena Al-Masih tak wafat di atas tiang salib, maka kebangkitan beliau dari “kubur” adalah wajar dan ajaran tentang penebusan dosa yang diwariskan oleh Adam (Galatia 3:13) adalah palsu.
Penyaliban Al-Masih itu hanya berlangsung tiga jam saja, dari pukul 12 s/d 15 waktu setempat. Karena menjelang hari Sabat, yang pada hari itu tak boleh ada mayat tinggal tergantung pada kayu salib (Yohanes 19:31), maka kaum Yahudi mohon kepada Pilatus agar mematahkan kaki orang-orang yang disalib kemudian setelah mati diturunkan secepatnya. Kaki kedua penjahat yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri Al-Masih diremukkan sehingga tewas, tetapi kaki Al-Masih tidak, karena Al-Masih telah diserupakan dengan orang mati (4:157), sehingga Al-Masih mereka sangka benar-benar telah mati. Kematian Al-Masih itu amat meragukan mereka. Untuk menghilangkan keragu-raguan itu seorang laskar Romawi menikam rusuk Al-Masih dan mengalirlah darah dengan air (Yohanes 19:32-34). Tikaman ini dianggap menyempurnakan kematian Isa Al-Masih, padahal justru sebaliknya membuktikan bahwa beliau belum wafat, karena darah dengan air mengalir adalah tanda alami masih adanya kehidupan. Anggapan keliru mereka itu merupakan pertolongan Ilahi untuk menyelamatkan Isa Al-Masih dari kematian terkutuk disalib, dan pertolongan itu disempurnakan lewat para muridnya, kaum Hawariyin, yakni diturunkannya Al-Masih dari tiang salib oleh Yusuf Arimatea dan kawan-kawannya. Kemudian dikuburkan dalam gua batu, setelah diobati dengan rempah-rempah dan dikafani.
Pada hari yang ketiga, Maria Magdalena dan kawan-kawan ziarah kubur, ia menyaksikan bahwa batu penutup kubur telah tergolek dan di dalam kubur tinggal kain kafan yang berlumuran darah. Al-Masih telah bangkit dan meninggalkan kubur. Beliau menyamar sebagai tukang kebun untuk menyelamatkan diri. Hal ini membuktikan bahwa Al-Masih ketika diturunkan dari tiang salib dan dikuburkan belum wafat, hanya pingsan atau mati suri saja. Sebagaimana kita baca dalam Kitab Perjanjian Baru, yang menyatakan Isa Al-Masih mati disalib bukanlah orang-orang yang menangani langsung penurunan Yesus dari tiang salib lalu mengobati, mengkafani terus menguburkannya. Sumbernya hanyalah dengan orang yang hanya melihat dari jauh saja, bukan saksi mata. Dengan demikian berarti bahwa:
Sempurnalah janji Ilahi, bahwa beliau akan menyelamatkan Al-Masih dari kematian terkutuk (3:55) dan gagallah rencana (makar) kaum Yahudi (3:54).
Sempurnalah nubuat Al-Masih bahwa anak manusia akan berada dalam perut bumi selama tiga hari, sebagaimana Yunus dalam perut ikan selama tiga hari, dalam keadaan hidup (Markus 16:1-2).
Sempurnalah sebagian nubuat Yesaya, bahwa Tuhan menghendaki Yesus sebagai “Hamba Tuhan yang menderita” itu akan menyaksikan keturunannya dan umurnya akan lanjut” (Yes 53:10)
Hukum Tuhan itu berlaku bagi siapapun. Tuhan menetapkan bahwa orang yang telah mati tak akan hidup ke dunia lagi (Ayub 7:9-10; Quran 23:100; 36:42). Karena Al-Masih bangkit dari kubur, maka bisa disimpulkan bahwa ketika beliau diturunkan dari salib belum wafat, hanya pingsan/mati suri saja.
Kubur yang kosong dan kain kafan berlumuran darah yang ditinggalkan adalah saksi bisu bahwa Al-Masih tatkala diturunkan dari tiang salib hayat masih dikandung badan, belum wafat dan yang ditangkap lalu dipakukan pada tiang salib itu adalah Isa Al-Masih (Yesus Kristus), bukan orang lain, Yudas Eskariot misalnya. Bukti alami terakhir yang pembuktiannya masih menunggu waktu adalah DNA pada kain kafan tentu sama dengan DNA pada Bukit Golgota dan makam Kudus dan sama pula dengan DNA dimakam Yus Asaf di Srinager, Kasymir.

Al-Masih sesudah percobaan penyaliban

Sesudah peristiwa penyaliban yang gagal, Nabi Isa as. Tidak naik ke sorga di langit sebagaimana diyakini oleh Gereja atau umat Islam umumnya, melainkan tetap melaksanakan tugas menggembalakan domba-domba Israil yang tersesat (Qur’an 3:47-48; Matius 15:24).
Bangsa Israil itu terdiri dari 12 suku (7:160; 5:12), yang dinamakan menurut 12 putera Yakub, yaitu Ruben, Simeon, Levi, Yahuda, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Yusuf, dan Benyamin (I Tawarikh 2:1-2). Mereka memperoleh kejayaan pada zaman Daud dan Sulaiman, sesudah itu mengalami kemunduran, kemudian dibinasakan oleh raja Babil, Nebukadnezar pada tahun 597 sebelum Masehi lalu disempurnakan dengan membinasakan Bait Allah di Yerusalem pada tahun 588 sebelum Masehi. Mereka ditawan dan diperbudak di Babil (II Raja-raja 24:10-17). Baru pada zaman Cyrus yang Agung dari Persia yang menggantikan Babilonia, mereka diizinkan kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Allah di Yerusalem (Ezra 1:1-4); akan tetapi sebagian besar dari mereka tetap tinggal di Babil dan menyebar ke negeri-negeri Timur: Persia, Afghanistan, Pakistan, Kasymir dan sebagainya; hanya sebagian kecil saja yang kembali ke Palestina, dibawah pimpinan Nabi Uzair, yaitu: suku Yahuda, Lewi dan Benyamin (Ezra 1:5). Kepada tiga suku inilah Al-Masih melakukan dakwah selama lebih kurang tiga tahun di Palestina. Tugas ini sesudah peristiwa penyaliban dilanjutkan oleh 12 murid pilihannya dengan pesan:
“Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil. Pergilah dan beritakanlah: kerajaan Sorga telah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan Cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan Cuma-Cuma” (Matius 10:5-8).
Setelah luka-luka Al-Masih sembuh akibat penyaliban, beliau meninggalkan Palestina, terus mengembara ke sebelah Timur bersama ibundanya dan saudara kembarnya, Thomas. Beliau menjelajah negeri Syria, Persia, terus Pakistan. Di Pakistan Utara, Siti Maryam wafat dan dimakamkan di kota Murree. Dari sinilah Al-Masih masuk ke Kasymir dan mulai dengan kehidupan baru menjadi ayah dari beberapa anak (salah seorang penduduk Srinagar bernama Sahibzada Basyarat Salim mempunyai silsilah lengkap yang sampai kepada Nabi Isa Al-Masih as.). Pengembaraan Al-Masih dan ibunya ini dinyatakan Ilahi dalam firmanNya:
“Dan Kami membuat Ibnu Maryam dan ibunya sebagai tanda bukti, dan keduanya Kami ungsikan ke tanah yang tinggi yang mempunyai padang rumput dan mata air” (Al Mu’minun 23:50).
Tempat tinggal yang dilukiskan dalam ayat tersebut tak sesuai jika diterapkan pada tanah Mesir, Yerusalem atau Syria, akan tetapi tepat sekali jika diterapkan pada Kasymir, di samping itu banyak bukti-bukti historis dan etnologis yang menunjangnya. Di sinilah Al-Masih berdakwah sampai usia lanjut dan wafat secara wajar dalam usia 120 tahun, sebagaimana telah dinubuatkan oleh Musa bahwa Roh Allah
“tidak akan selama-lamanya tinggal didalam manusia, karena manusia itu daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja” (Kejadian 6:3).
Makam beliau terdapat di jalan Khan Yar, Srinagar, Kasymir. Sekarang kita bisa menyaksikan dan ziarah ke sana.
Sumber...http://studiislam.wordpress.com

Injil Barnabas menurut Qur’an Suci


ingga kini banyak sekali umat Muslim yang beranggapan bahwa Injil Barnabas adalah Injil yang asli,  sedemikian rupa keyakinan itu hingga mereka menafsirkan Qur’an Suci – khususnya tentang penYaliban Yesus – dengan menjadikan Injil tersebut sebagai hakim bagi Qur’an Suci. karena mereka beranggapan bahwa yang disalib itu bukan Yesus melainkan Yudas Iskariot dan Yesus itu sendiri diselamatkan dengan diangkat kelangit kedua dengan badan wadagnya. Kini yang menjadi pertanyaan benarkah Injil Barnabas itu asli?, bukankah hanya kitab Al-Quran saja yang kemurniannya dijaga oleh Allah Ta’ala?

Injil Barnabas menurut Qur’an Suci

“Dan sebagian mereka buta huruf; mereka tak tahu Kitab, selain (dari) desas-desus dan mereka hanya mengira-ngira saja. Maka celaka sekali orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka, lalu berkata: Ini adalah dari Allah; agar mereka memperoleh harga yang rendah sebagai pengganti ini. Maka celaka sekali mereka, karena apa yang mereka tulis dengan tangan mereka, dan celaka sekali mereka, karena apa yang mereka usahakan” (2:78-79)
Sangatlah tepat gambaran Qur’an Suci tentang kitab Suci yang sudah-sudah bahwa pengetahuan mereka tentang Kitab (ajaran) tersebut adalah dari desas-desus dan perkiraan saja hal ini diakui oleh Injil Lukas
“Teofilus yang mulia, banyak orang yang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Lukas 1:1-4)
dari penuturan Lukas tersebut dapat disimpulkan:
  • 1. sejak zaman permulaan kekristenan telah banyak disusun Injil: banyak orang yang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,…”
  • 2. Injil itu disusun berdasarkan Cerita dari mulut ke mulut yang fokusnya adalah pelajaran Al-Masih sang Firman: yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman”.
  • 3. Injil Lukas disusun dengan cara ambil sana ambil sini yang dianggapnya benar:” Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,….”
Kitab Suci yang ditulis langsung, dibaca lalu diamalkan hanyalah Qur’an Suci (80:11-16; 75:17-19). Sebelum Qur’an Suci ajaran-ajaran kitab-Kitab suci sebelumnya tak pernah langsung ditulis dibawah pengawasan sang Nabiyullahnya melainkan hanya berupa cerita-cerita dari mulut-kemulut saja selang beberapa tahun dari wafat / hijrahnya Nabi tersebut barulah ajaran-ajaran yang berdasarkan perkiraan dan yang berasal dari desas-desus tersebut dibukukan. Hal ini termasuk pula Injil Barnabas. Bila Injil Barnabas itu asli (Suci) maka tak mungkin Qur’an Suci menyama ratakan bahwa semua kitab-kitab suci yang terdahulu itu telah rusak dan tak mungkin pula Qur’an Suci menobatkan dirinya sebagai penjaga ajaran yang masih asli dan yang membetulkan dari kesalahan-kesalahan Kitab Suci yang terdahulu:
“Kami menurunkan kepada engkau Kitab dengan kebenaran, yang membetulkan Kitab yang ada sebelumnya, dan yang menjaganya” (5:48)
Jelaslah kiranya bahwa menurut Qur’an Suci tak ada Kitab Suci yang masih murni (suci) selain Kitab Suci Al-Qur’an itu sendiri.
Injil Barnabas ditulis sesudah tahun 1300 Masehi
Injil Barnabas terjemahan Rahnip M., B.A. didasarkan atas Injil Barnabas bahasa Inggris yang merupakan terjemahan dari naskah bahasa Itali yang ditemukan di Perpustakaan Negara di Wina. Terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Ragg dan Laura Ragg pada tahun 1907 (di Oxford, at the Clarendon Press). Sedangkan terjemahan Abu-Bakar-Basymeleh didasarkan atas Injil Barnabas berbahasa Arab oleh seorang terkemuka Dr. Kholil Saadah dalam tahun 1908, yang juga berasal dari naskah Itali di perpustakaan Wina itu. Jadi kedua terjemahan Indonesia yang berasal dari terjemahan Inggris dan Arab sama-sama bersumber pada terjemahan bahasa Itali. Menurut Dr. Khalil Saadah, naskah Itali yang tersimpan di perpustakaan negara di Wina itu berasal dari Amsterdam, yang diduga keras naskah itu berasal dari Spanyol. Hubungan dagang Amsterdam-Venesia saat itu sangat ramai. (Injil barnabas ditulis dalam bahasa Itali yang bercampur dengan dialek Toscan dan Venezian). Uraian mendalam silahkan membaca “Mukaddimah” oleh Dr. Kholil Saadah dalam Injil barnabas hal. x-xxxvii.
Keluarnya Injil Barnabas dari perpustakaan Paus Sixtus V diceritakan oleh Mustafa de Aranda dalam Kata Pengantar edisi Spanyol. Ia menguraikan riwayat Fra Marina seperti dinukil oleh Prof. K.H. Anwar Musaddad sebagai berikut:
“Ada seorang Uskup bernama Fra Marino yang hidup pada abad 16. Ia sangat rindu untuk membaca Injil Barnabas karena Barnabas itu adalah murid Yesus sendiri dan pernah bersama-sama dengan Paulus mengadakan misi-misi perjalanan tapi kemudian berpisah dengan Paulus karena ada segi-segi pertentangan paham yang sangat prinsipal antara keduanya”.
Pada suatu ketika Uskup itu berkunjung ke istana Paus Sixtus V (1521-1590) dan mungkin karena terlalu lelah, maka Paus tertidur di muka tamunnya. Guna memanfaatkan waktu, Fra Marino masuk ke perpustakaan Paus untuk menghabiskan waktunya dengan membaca. Secara kebetulan tangannya terpegang pada Injil Barnabas yang dirinduinya. Dengan penuh perhatian ia membaca beberapa halaman sedang dalam hatinya berharap untuk membaca sampai tamat. Karena ia berkeyakinan bahwa kitab yang sangat berharga itu tidak mungkin boleh dipinjamnya, maka timbullah fikiran untuk mencurinya. Dengan rapih sekali Kitab itu  disembunyikan dalam mantelnya. Begitu Paus bangun, ia pamitan pulang.
Di rumah dibacanya Injil itu dan akhirnya ia spontan memeluk agama Islam”  (Kedudukan Injil Barnabas menurut Pandangan Islam, hal 21)
Uraian Anwar Musaddad sepintas lalu memberi kesan bahwa Injil Barnabas yang muncul dalam perpustakaan Paus Sixtus V yang sekarang tersimpan di perpustakaan negara Wina adalah Injil Barnabas yang termasuk Injil yang terlarang menurut tiga dektrit Gereja tersebut. Akan tetapi menurut penyelidikan, terutama penyelidik Kristiani, urain  di atas diangaggapnya sebagai kabar burung atau isapan jempol belaka. Naskah Injil Barnabas di perpustakaan negara Wina bukanlah tulisan tangan Barnabas murid Yesus Kristus, sebab bahasa Itali menjadi bahasa tulisan. Demikian pula berdasarkan kertas dan cap air (water mark) yang digunakan, juga membuktikan bahwa umur Injil itu tak sezaman dengan Yesus Kristus. Akan lebih jelas lagi jika memperhatikan isinya. Dalam pasa 82-83 disinggung tentang tahun Yobel yang dirayakan sekali dalam 100 tahun. Menurut Imamat 25:8-55 dan 27:16-25 tahun Yobel dirayakan sekali dalam 50 tahun dan ketentuan ini tak diubah oleh Yesus. Baru pada tahun 1300 Paus Banifacius VIII memerintahkan agar tahun Yobel dirayakan sekali dalam 100 tahun. Nah, dengan demikian terang sekali bahwa Injil Barnabas ditulis pasti sesudah tahun 1300 Masehi. Jauh lebih muda usianya degan Injil-injil perjanjian baru.

Siapa Penulis Injil Banabas ?

Tulisan Bishop Irenaeus (120-202 M), seorang berasal dari Smyma yang kemudian menjabat bishop di kota Lyon pada tahun 177 M, ada menyebut-nyebut Injil Barnaba (Gospel of Barnabs). Beberapa fragmen dari tulisan Bishop Irenaeus yang ditemukan itu berjudul Adverse Haereses.
Sedangkan ensiklike tentang, Bacaan Terlarang yang diumumkan oleh Paus Glasius I (492-496 M) pada tahun 492 M, mencantumkan nama Injil Barnaba. Jadi, Inijil Barnaba, itu pada masa dulu memang ada, tapi belakangan lenyap dari peredaran dan tidak ditemukan pada abad-abad berikutnya. Injil Barnaba itu pada masa dulu, jikalau tidak menggunakan bahasa Ibrani ataupun bahasa Aramik, maka setidak-tidaknya menggunakan bahasa Grik.
Pada abad ke-16 masehi ditemukan naskah Injil Barnabas menggunakan Ibahasa Itali. Konon seorang Frather menemukannya dalam Vatican Library dan menyelundupkannya keluar. Pada pinggir-pinggir halaman dijumpai catatan-catatan seseorang mempergunakan bahasa Arab. Naskah berbahasa Itali itu disalin belakangan ke dalam bahasa Sepanyol.
Pada tahun 1709 M, penasihat Raja Prussia bernama Craemer berkunjung ke Amsterdam dan di dalam perpustakaan seorang bangsawan tua disitu menjumpai naskah Injil Barnaba berbahasa Itali itu. Pada tahun 1713 M, naskah tersebut diserahkannya kepada Prins Jugend Savoy; dan pada tahun 1738 M, perpustakaan milik Prins Jugend itu dipindahkan kepada Perpustakaan Kerajaan di Wina. Disitulah naskah itu dijumpai kembali dan disalin oleh seorang sarjana Inggris ke dalam bahasa Inggris.
Belakangan dijumpai lagi naskah Injil Barnaba berbahasa Sepanyol, dipinjam Dr. Holm dari Hardley di Hampshire, seorang Orientalist, dan naskah itu kemudian pindah tangan kepada Dr. Minkhauss, seorang anggota King’s College di Oxford, lalu menyalinnya ke dalam bahasa Inggris.
Pada tahun 1784 M, naskah berbahasa Sepanyol dan salinannya ke dalam bahasa Inggeris diserahkan kepada Dr. White, yang memperbandingkannya dengan salinannya ke dalam bahasa Inggris dari naskah Itali, dan tidak menjumpai perbedaan isi antara kedua salinan itu.
Injil itu menyatakan Jesus Keristus tidak disalibkan karena yang tertangkap dan yang disalibkan itu adalah Judas Iskariot. Selanjutnya tidak ada menyebut-nyebut tentang Ilahiah dari Jesus Keristus.
Tentang keaslian isi Injil Barnaba dalam naskah berbahasa Itali itu, yakni salinannya kedalam bahasa Itali itu, merupakan tandatanya besar. Karena di dalam naskah berbahasa Itali itu nama Nabi Muhammad s.a.w. berkian kali disebutkan secara jelas dan nyata.
Penelitian terhadap jenis kertas yang digunakan beserta cara penjilidannya membuktikan bahwa naskah berbahasa Itali itu berasal dari masa sekitar Abad ke-16 masehi. Di dalam kemungkinan :
1. Keseluruhan isi Injil Bamaba itu bikinan seorang penulis Kristen, yang guna memikat hati seorang Penguasa pihak Islam pada masa itu, sengaja mempersembahkan karyanya itu; dan karena sesuatu peristiwa yang tidak diketahui lantas naskah berbahasa Itali itu jatuh pada akhirnya ke tangan pihak Vatikan.
2. Injil Bamabas yang asli itu ditemukan oleh seorang Kristen, yang kemudian memeluk agama Islam, lalu menyalinnya ke dalam bahasa Itali dan menambahkan Ayat-Ayat Sisipan mengenai  Nabi Muhammad s.a.w.
Sampai kepada masa sekarang ini, permasalahan naskah Injil Barnaba berbahasa Italia itu belum memperoleh jawaban yang pasti. Kecuali jikalau sempat ditemukan kelak naskahnya yang berbahasa Grik hingga diperoleh suatu alat pembanding. Pihak dunia Kristen sendiri menolak akan keaslian Injil Barnaba itu.
Jika demikian siapakah penulis/pengarangnya? Menurut kesimpulan Drs. J.Slomp, pengarangnya adalah  Fra Marino alias Mustafa de Aranda itu sendiri, karena kabar burung itu diisyaratkan dalam fasal 192 Injil barnabas itu sendiri. Agaknya ia seorang Yahudi berkebangsaan Spanyol yang dipaksa memeluk agama Roma Katolik, kemudian ia memeluk agama Islam; sebagaimana banyak orang lainnya dia meninggalkan Spanyol dan pergi ke Bologna (Italia), dan di kota itu dikarangnya Injil barnabas, baik dalam bahasa Italia mapun bahasa Spanyol. Sebagai bukti bahwa ia seorang Islam catatan-catatan pinggirnya berbahasa Arab dan kecaman-kecamannya terhadap  Paulus dkk yang mirip-mirip dengan ajaran Islam; sedangkan bukti yang menunjukkan ke-Yahudiannya antaralain ia menolak Yesus sebagai Mesias yang di janjikan.
“Dari itu mereka telah mengutus orang-orang Lewi untuk menanyakan kepadanya, kata mereka: “Siapakah gerangan engkau?” Maka Yesus telah mengakui dengan menyatakan:”Sesungguhnya aku ini bukanlah Messias.” (Bar 42:1-7)
“Dan setelah sembahyang itu selesai, berkatalah imam dengan suara yang keras: ” Berhentilah Ya Yesus, sebab harus kami mengetahui siapakah gerangan engkau ini, demi untuk menenangkan Umat kita.” Yesus menjawab: “Aku Yesus anak Maryam dari keturunan Daud, seorang manusia yang pasti akan mati, takut kepada Allah dan menuntut agar kemuliaan dan penghormatan itu, tidak diberikan melainkan kepada Allah”.  Imam itu menjawab : “Bahwa telah disuratkan dalam kitab Musa bahwa Tuhan kita akan mengutus untuk kita Messias yang akan datang buat memberitahukan kita tentang apa yang dikehendaki oleh Allah dan dia akan membawa rahmat Allah bagi (penduduk) bumi. Dari itu kuharap supaya engkau berkata benar kepada kami. Apakah engkau ini Messias Allah yang kami nanti-nantikan itu ?”  Yesus menjawab: “Benar Allah telah menjanjikan demikian, akan tetapi aku ini bukanlah dia, karena dia itu tercipta sebelum aku, dan akan tiba sesudahku.”
….”Demi Allah yang aku berdiri di hadapan-Nya, bahwa sebenarnya aku ini bukanlah Messias yang sedang dinantikan oleh seluruh bangsa di muka bumi, seperti yang telah dijanjikan oleh Allah kepada bapak kita Ibrahim, Firman-Nya:” Dengan anak keturunanmu Aku akan memberkahi semua bangsa-bangsa di dunia”. (Bar 96:1-5,8).
Dari penuturan barnabas diatas kita dihadapkan oleh dua pilihan jikalau Injil Barnabas itu asli maka kita akan mengatakan bahwa wahyu Ilahi itu salah atau bahkan dusta (Na’uzubillah min dzalik) karena Qur’an Suci jelas-jelas menyatakan bahwa Yesus itu adalah Al-Masih/Mesias. Mungkinkah Allah salah atau Yesus – Nabiyullah yang maksum – telah mengeluarkan kata-kata yang menjijikan dengan berdusta kepada umatnya ??
Ayat Injil Barnabas yang tak masuk akal.
1. “Yesus menjawab: Dikala Allah menciptakan gumpalan dari tanah, kemudian meninggalkannya duapuluh lima ribu tahun tanpa mengerjakan sesuatu yang lain, tahulah Setan yang berkedudukan sebagai imam dan kepala dari para Malaikat itu dengan kecerdasan besar yang dimilikinya, bahwa Allah akan mengambil dari gumpalan itu seratus empat puluh empat ribu orang yang bergelar dengan gelar nubuat beserta Rasul Allah yang telah diciptakan rohnya sebelum segala sesuatu yang lain dengan enam puluh ribu tahun. Dari itu dia (setan) marah, maka dihasutnya para Malaikat, katanya: “Lihatlah pada suatu hari Allah akan menghendaki supaya kita sujud untuk tanah ini ” (Bar.35:6-9),
“karena itu Allah berfirman  pada suatu hari di waktu para Malaikat telah berkumpul semuanya: “Semua yang telah memilih aku sebagai Tuhannya, harus segera sujud kepada segumpal tanah ini” (Bar 35:12)
“Adapun setan beserta mereka yang seperti dia, maka mereka berkata:” Ya Tuhan sesungguhnya kami ini adalah roh, dari itu bukanlah dari keadilan kami bersujud untuk tanah ini” (Bar 35:14)
“Ketika itu Allah berfirman:”Enyahlah kalian dari depanKu wahai kamu yang terkutuk, tidak ada padaKu lagi rahmat untuk kalian, “Dan ketika pergi, meludahlah setan kepada gumpalan tanah itu. Lalu Jibril membuang ludah itu beserta sedikit tanah, sehingga karena itu manusia mempunyai pusat diperutnya” (Bar 35:25-27)
Benarkah manusia berpusat karena Jibril membuang ludah setan dan sedikit tanah, maka ada lekukan di perut/pusat. Bukankah pusat manusia itu adalah bekas tali plasenta manusia semasih dalam rahim ibu ?
Kambing, kuda, lembu, kerbau, gajah dan seluruh hewan yang berkaki empat juga mempunyai pusat di perutnya, yang juga semula adalah tempat plasenta selama dalam perut induknya. Apakah itu karena Jibril membuang ludah setan dari mereka juga ?
2. “Dan setelah Malaikat Jibril membersihkan segumpal tanah yang telah diludahi oleh setan itu Allah telah menciptakan segala benda yang hidup dari segala jenis hewan yang terbang yang melata dan berenang. Dan telah menghiasi bumi ini dengan segala yang ada padanya. Pada suatu hari Setan itu mendekati pintu surga. Dan ketika itu ia melihat kuda sedang makan rumput, ia memberitahukan kepadanya bahwa apabila segumpal tanah itu mempunayi nyawa maka ia akan tertimpa kepayahan. Dari itu untuk kepentingannya (kuda) itu  ia harus menginjak segumpal tanah itu dengan satu cara yang dapat menjadikan (gumpal tanah) itu tidak bisa digunakan untuk sesuatu. Maka bangkitlah kuda itu dan berlari-lari deras di atas gumpal tanah yang terletak di antara pokok-pokok  cemara dan mawar itu. Kemudian  Allah memberikan nyawa kepada bagian najis daripada gumpalan  tanah yang terkena ludah Setan dan yang telah diambil oleh Malaikat Jibril dan dari pada gumpalan itu. Kemudian diciptakannlah anjing lalu ia menyalak dan menakutkan kuda itu sehingga lari” (Bar 39:4-12)
Dalam Bar 39:4 dikatakan semua hewan telah diciptakan setelah Jibril membuang tanah yang terkena ludah Setan. Tetapi koq anjing diciptakan sesudah kuda makan rumput, artinya anjing tidak serempak dijadikannya. Dan benarkah anjing itu diciptakan dari tanah unsur manusia ?,  jika Injil Barnabas ini autentik, apakah hubungan biologis antara manusia dengan anjing ?
3. Dalam Barnabas 53:34-35 dikatakan :
“Dan ketika Yesus mengatakan demikian maka ditamparnyalah wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian ia memukul lantai dengan kepalanya, lalu ketika kepalanya diangkat ia berkata:”Hendaklah terkutuklah barang siapa yang menyisipkan dalam uraian-uraianku  bahwa aku ini anak Allah”.
Mungkinkah orang yang berderajat Maksum akan berbuat hal yang demikian dihadapan murid-muridnya?. Autentikkah ini?
4. Dalam Injil Barnaba dikatakan: Yesus diangkat kelangit oleh 4 Malaikat (215:4-6). Dalam Barnaba 219:6-7 dikatakan Yesus dikembalikan kepada ibu dan murid-muridnya atas permintaaan Yesus. Dalam Barnabas 221:7 Yesus berkata: “Pergilah bersama ibunda kebukit zaitun. Karena aku akan naik ke langit dari sana juga (Bar 221:7-8). Kemudian diangkatlah dia oleh keempat Malaikat itu kelangit di depan mata mereka (Bar 221:23). Jadi Yesus naik kelangit 2 (dua) kali. Benarkah hal ini ??
sumber...http://studiislam.wordpress.com

Isi Injil Barnabas yang Memuat Berita Kedatangan Nabi Muhammad SAW

Isi Injil Barnabas yang Memuat Berita Kedatangan Nabi Muhammad SAW | Assalamualaikum, di postingan sebelumnya, saya sudah sharing mengenai Misteri Injil Kuno Yang Mengungkap Kerasulan Muhammad SAW
, Nah di postingan kali ini saya mau sharing mengenai isi dari injil barnabas tersebut.


Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad:


Bab 39 Barnabas: ”Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah Tuhan kita… Tiada Tuhan Selain Allah dan dan Muhammad adalah utusan-Nya”.


Masih pada bab 39 yang mengisahkan tentang Nabi Adam, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam dialog antara Nabi Adam dengan Tuhan. ”…Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah ada manusia sebelum aku?”


Bab 41 Barnabas: “Atas perintah Allah, Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga ‘Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah…”


Bab 44 Barnabas: Pada bab ini Yesus atau Nabi Isa menyebut nama Nabi Muhammad. ”Oh, Muhammad Tuhan bersamamu…”


Bab 97: Yesus menjawab, “Nama Mesias sangat mengagumkan, karena Allah sendiri yang memberinya nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: ‘Tunggu Muhammad; karena kamu Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan banyak makhluk… Siapa pun yang memberkatimu akan diberkati, dan barangsiapa mengutukmuu akan dikutuk..”


Bab 112: Dalam bab ini Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah aka membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ”Tetapi Muhammad akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Isi Injil Barnabas di atas dikutip dari barnabas.net.


***


Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.


Walau Injil Barnabas “mengakui” kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. “Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam,” demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).


Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.


Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. “Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab,” ungkapnya.


Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama.


“Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas,” kata dia. Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Inkjil. “Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan injil Barnabas,” ujarnya.


Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil kuno itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

Misteri Injil Kuno Yang Mengungkap Kerasulan Muhammad SAW

Misteri Injil Kuno Yang Mengungkap Kerasulan Muhammad SAW | Assalamualaikum, malam sobat semua, tadi saya habis main main ke situs dakwatuna dan saya menemukan sebuah artikel yang sangat menghebohkan, berikut artikelnya


Perhatian dunia tertuju ke Turki. Beberapa hari ini, publik dihebohkan dengan terungkapnya sebuah misteri yang terkandung dalam Injil berusia 1500 tahun yang tersimpan di Turki.


Yang membuat heboh, Injil kuno itu mengungkap sebuah fakta yang mengguncang keimanan, terutama bagi umat Kristiani. Betapa tidak. Injil Barnabas itu mengajarkan ajaran yang berbeda dibanding doktrin Kristen dunia.


Ya, Injil Barnabas itu meyakini Yesus (Isa) sebagai utusan, bukan Tuhan. Menurut Huffingtonpost, Injil Barnabas pun meyakini adanya utusan (nabi) penerus risalah Isa, yang berasal keturunan Nabi Ismail, yakni Nabi Muhammad SAW.


Barnabas dipercayai sebagai salah seorang murid Isa di Yerussalem. Barnabas yang bernama asli Yusuf, bersama para murid lainnya menyebarkan ajaran Isa. Barnabas adalah seorang Yahudi suku Lewi yang berasal dari Siprus. Dalam Wikipedia, Hajj Sayed berpendapat. terdapat pertikaian antara Paulus dan Barnabas dalam surat Galatia ketika keduanya menjalani misi dakwah menuju Syprus (45-49 M).


Ini yang mendukung perbedaan injil Barnabas dengan ajaran Paulus. Injil Barnabas ini berbeda dengan Kodeks Sinaiticus, karena menggunakan bahasa Aramik bukan Yunani kuno. Bahasa Aramik diyakini sebagai bahasa yang digunakan Nabi Isa atau Yesus. Berbeda dengan berbagai Injil lainnya, kitab Barnabas diyakini ditulis Barnabas selama berada di Siprus, setelah berpisah dari Paulus.


Di Siprus inilah pengikut Barnabas berkembang hingga lebih dari seribu tahun. Bila ditelusuri ada benang merah pengungkapan Injil Barnabas di Turki dengan tempat ajaran Barnabas yang berkembang di Siprus.


Ada sebuah biara di utara Siprus Turki yang disebut sebagai Biara Rasul St Barnabas, yang didirikan oleh pengikut setia sekte Barnabas. Dan di dalam biara inilah diyakini Barnabas dikuburkan hingga ia meninggal dunia. Pengikut sekte Barnabas inilah yang diyakini menulis ulang Injil Barnabas hingga abad ke-5 masehi.


Sekitar 1980-an, biara ini telah dirampok oleh sekelompok orang. Mereka menggali lantai dan dinding biara selama malam hari. Tidak diketahui apa yang mereka incar. Diduga sekelompok orang itu telah mencuri sesuatu terkubur di dalam dinding.


Seorang wartawan Siprus mengklaim telah menemukan salinan Alkitab yang sangat kontroversial dari St Barnabas. Ia kemudian mencoba menyelidiki fakta itu. Tak lama kemudian, ia temukan tewas tertembak.


Sekitar 12 tahun lalu, polisi Turki dalam sebuah operasi menemukan sebuah Alkitab tua dari seorang warga siprus yang hijrah ke Turki. Ada beberapa rumor tentang kabar itu. Pihak polisi tak membenarkan dan menolak kabar itu.


Puncaknya, tiga hari lalu, sebuah Alkitab tersebut telah dipublikasikan untuk pertama kalinya setelah 12 tahun disimpan pemerintah Turki. Saat ini Alkitab ini disimpan di museum negara Turki dan telah menjadi perhatian dunia termasuk dari Vatikan.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/19108/misteri-injil-kuno-pengungkap-kerasulan-muhammad-saw/

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More